Uang Dalam Perekonomian

Standard

uang

1.       Definisi Uang

Definisi dan pengertian praktis tentang uang selalu berubah secara dinamis sesuai dengan perkembangan masyarakat atau perekonomian. Pada masyarakat yang perekonomiannya sudah relatif maju, definisi dan pengertian uang lebih luas dan kompleks.

Namun demikian, para ahli ekonomi umumnya sepakat bahwa definisi paling umum tentang uang adalah. ”segala sesuatu (benda) yang diterima secara umum dalam proses pertukaran barang dan jasa. Pengertian ini mengandung dua unsur terpenting, yaitu sesuatu benda dan diterima secara umum.

Uang dapat berbentuk segala sesuatu (benda), tetapi tidak semua benda merupakan uang. Syarat berikutnya adalah diterima secara umum. Biasanya benda yang digunakan adalah benda-benda yang bernilai ekonomis (economic goods), misalkan pisau yang dipakai oleh masyarakat Cina pada ± 3.000-5.000 tahun yang lalu, garam dipakai oleh kekaisaran Romawi, emas, dan logam-logam mulia lain selain emas.

2.       Perkembangan Bentuk-Bentuk Uang

Perkembangan bentuk-bentuk uang sejalan dengan perkembangan peradapan manusia itu sendiri. Secara garis besar, perkembangan perekonomian dapat dibedakan menjadi dua tahap, yaitu perekonomian barter (barter economies) dan perekonomian uang (monetary economies).

2.1.   Sistem Perekonomian Barter (Barter Economies)

Dalam perekonomian barter, peningkatan kesejahteraan dilakukan dengan tukar-menukar secara langsung komoditas-komoditas yang dibutuhkan. Sebagai syarat dari pertukaran tersebut adalah adanya dua keinginan yang saling bertemu atau ”kehendak ganda yang selaras” (double concidence of wants). Jika syarat tersebut tidak dipenuhi, maka proses pertukaran tidak akan berlangsung dan hal ini merupakan salah satu kelemahan dari perekonomian barter.

Kelemahan-kelemahan lain dari sistem perekonomian barter adalah sebagai berikut:

  1. Tidak adanya metode penyimpanan daya beli yang dapta diterima secara umum

Daya beli hanya dapat disimpan dalam benda-benda tertentu saja dan sering kali hanya berlaku di satu tempat tertentu, sehingga wilayah penggunaannya juga relatif sempit. Selain itu, benda-benda yang dipakai sebagai penyimpan daya beli cepat rusak, sehingga nilainya menurun.

  1. Tidak adanya standar ukuran dan nilai

Karena harga suatu barang diukur dengan barang lain, maka dalam perekonomian akan ada begitu banyak nilai tukar. Makin banyak barang/jasa yang diproduksi akan makin banyak nilai tukar yang harus ditetapkan.

  1. Tidak adanya alat pembayaran untuk transaksi-transaksi di masa mendatang

Sistem barter menyebabkan transaksi hanya dilakukan untuk sesuatu yang dibutuhkan pada saat transaksi dilakukan saja. Jika seseorang menunda dan menunggu waktu lain, sangat besar kemungkinan dia tidak akan mendapat kesempatan lagi. Sebab di waktu lain, kebutuhan orang-orang juga berubah.

2.2.   Sistem Perekonomian Pasca Barter (Post Trading Economies)

Dalam sistem perekonomian pasca barter, kegiatan pertukaran masih dilakukan dengan sistem barter. Tetapi barter tidak lagi dilakukan antar individu, tetapi sudah ditentukan tempat khusus untuk pertemuan barter sehingga koordinasi transaksi menjadi lebih murah dan muda. Masalah double concidence of wants dapat dikurangi, demikian juga informasi tentang pembeli atau penjual potensial suatu komoditas lebih mudah diperoleh. Namun, dengan perkembangan perekonomian, dimana jumlah produksi barang/jasa makin besar serta variasi produk makin banyak/beragam, maka sistem perekonomian pasca barter juga menemukan keterbatasan-keterbatasan, antara lain adalah biaya transaksi yang tinggi dan kemungkinan kegagalan transaksi karena tidak terjadinya double concidence of wants.

2.3.   Sistem Perekonomian Uang (Monetary Economies)

Untuk mengatasi keterbatasan dalam sistem perekonomian barter dan pasca barter, maka mulai ditetapkanlah satu komoditas atau benda yang diterima secara luas sebagai alat tukar. Dengan demikian perekonomian memasuki masa perekonomian uang. Pada awalnya, benda yang dijadikan sebagai alat tukar merupakan benda yang relatif berharga (economic good) dan diterima secara luas. Perkembangan uang selanjutnya mengikuti perkembangan kemajuan ekonomi dan teknologi.

a.      Uang Komoditas (Money Commodities)

Pada tahap ini uang yang digunakan adalah berupa komoditas berharga pada masanya. Perkembangan selanjutnya, disepakati bahwa uang yang terbuat dari logam mulia, seperti emas, perak, dan perunggu, digunakan sebagai uang.

b.     Representatif Uang Komoditas (Money Commodities Representative)

Penggunaan uang komoditas menimbulkan kesulitan, baik untuk kegiatan transaksi berskala sangat kecil maupun transaksi sangat besar. Jika transaksi yang dilakukan dalam jumlah yang sangat besar, maka logam mulia yang dibutuhkan juga sangat besar sehingga akan sangat riskan dalam hal keamanan serta merepotkan. Kesulitan ini mendorong diberlakukannya penggunaan uang kertas sebagai alat tukar. Namun karena nilai nominal dari uang kertas jauh lebih besar daripada nilai kertas yang digunakan sebagai uang, maka setiap uang kertas yang dikeluarkan dijamin dengan logam mulia senilai nominal uang kertas yang dikeluarkan.

c.      Uang Fiat (Token Money)

Kelemahan dari sistem standar emas adalah ekspansi moneter akan menyebabkan pemerintah harus meningkatkan jumlah emas yang dicadangkan, yang berarti makin banyak kekayaan nasional yang kurang produktif. Selain itu, bagi Negara yang mengalami defisit neraca pembayaran, akan mengalami kebangkrutan. Dengan kelemahan ini maka, penjaminan uang kertas dengan logam mulia tidak lagi dipakai dan diganti dengan keputusan resmi dari pemerintah, sehingga masyarakat menjadi percaya dengan uang kertas tersebut meskipun nilai nominalnya lebih besar daripada nilai kertasnya (nilai nominal lebih besar dari nilai intrinsik).

3.       Syarat-Syarat Uang

Untuk dapat digunakan sebagai uang, suatu benda harus memenuhi syarat-syarat dibawah ini:

1.         Mudah dibawa (portability)

Suatu benda dapat digunakan sebagai uang haruslah mudah dibawa. Dengan syarat ini, maka uang akan sangat likuid karena dapat digunakan di mana saja dan kapan saja, serta dapat meningkatkan kenyamanan dan rasa aman memegang uang, karena uang dalam jumlah besar dapat disimpan ditempat yang kecil, terlindung, dan tidak diketahui oleh orang lain.

2.    Tahan Lama (Durability)

Uang harus tahan lama, agar tidak perlu setiap saat diganti dengan yang baru. Nilai fisik uang haruslah dijaga jangan cepat rusak atau robek, karena jika rusak atau robek, akan menurunkan nilainya.

3.    Dapat dipecah menjadi unit-unt yang lebih kecil (divisibility)

Uang harus dapat dipecah menjadi unit-unit yang lebih kecil, agar mampu menjalankan fungsinya sebagai alat pembayaran untuk transaksi-transaksi yang nilainya kecil. Hal ini penting diperhatikan karena dalam kehidupan sehari-hari manusia seringkali membeli sesuatu dalam nilai-nilai kecil tetapi sangat berguna, penting atau setidaktidaknya memberi kenikmatan.

4.    Dapat distandarisasi (standardizibility)

Syarat ini harus dipenuhi agar pengguna uang tidak merasa ragu akan kualitas uang yang dipakai. Dengan demikian setiap uang yang digunakan dalam sebuah perekonomian harus dapat dicetak/diperbanyak dengan kualitas standart.

5.    Diakui (recognizability)

Uang harus dapat diterima oleh masyarakat. Jika syarat ini tidak dipenuhi, maka masalah yang timbul adalah ketidakpastian apakah uang yang diterima merupakan barang berharga atau sama sekali tidak bernilai.

6.    Nilainya stabil (stability of value)

Seseuatu benda dapat dijadikan sebagai uang jika mempunyai nilai dan nilai uang ini harus dijaga agar tetap stabil. Stabil tidak berarti nilainya tetap, melainkan tidak berfluktuasi secara tajam. Apabila nilai uang tidak stabil, maka uang tidak akan diterima secara umum, karena masyarakat mencoba menyimpan kekayaannya dalam bentuk barang-barang yang nilainya stabil, dan masyarakat juga akan mengurangi fungsi uang sebagai alat penukar dan kesatuan hitung.

7.    Jumlahnya mencukupi (elasticity of supply)

Jumlah uang yang beredar haruslah mencukupi kebutuhan perekonomian. Persediaan yang tidak cukup untuk mengimbangi kegiatan usaha akan menyebabkan perdagangan macet dan pertukaran kebali seperti perekonomian barter.

5.        Fungsi Uang

Uang adalah sesuatu yang dapat dipakai/diterima secara sah untuk melakukan pembayaran baik barang, jasa, maupun utang. Uang juga dapat didefinisikan sebagai segala sesuatu yang secara umum mempunyai fungsi sebagai beriku:

a.    Uang Sebagai Satuan Pengukur Nilai

Melalui keberadaan uang, maka nilai dari barang dan jasa dapat diketahui dan diperbandingkan dengan barang yang lain. Misalnya seseorang akhirnya dapat mengetahui nilai jual dari sebuah mobil dalam satuan rupiah. Atau seseorang dapat menghitung dan membandingkan jumlah kekayaannya dengan satuan rupaih.

b.    Uang Sebagai Alat Pertukaran

Fungsi ini memisahkan antara keputusan membeli dengan keputusan menjal. Melalui keberadaan uang sebagai alat tukar dapat menghilangkan perlunya adanya kesamaan keinginan sebelum terjadinya pertukaran. Kesamaan keinginan harus ada terlebih dahulu untuk terjadinya tukar-menukar barang dengan barang (barter). Melalui penggunaan uang keharusan adanya kesamaan keinginan ini tidak perlu ada untuk terjadinya pertukaran. Prosesnya, barang ditukar dengan uang, dan dengan uang ini dapat membeli / menukarkan dengan barang lain.

c.    Uang Sebagai Alat penimbun Kekayaan

Kekayaan seseorang dapat berupa barang atau uang. Dalam bentuk barang misalnya ; rumah mobil, perhiasan dan sebagainya, sedangkan dalam bentuk uang misalnya uang kas dan surat-surat berharga. Dengan demikian seseorang dapat menyimpan kekayaannya dalam bentuk uang kas, dan dalam pengertian inilah uang berfungsi sebagai alat penimbun kekayaan.

Arti Penting Uang dalam Perekonomian

1. Arti Penting Uang dalam Produksi

Produsen memproduksi dan menjual barang an jaanya sehingga memperoleh keuntungan dalam bentuk uang pada investasi kapitalnya. Bila keuntungan yang diperoleh ditanamkan kembali untuk menambah pabrik atau peralatan baru, maka investasi ini akan menguntungkan bagi masyarakat karena bertambahnya aliran barang dan jasa yang dapat dikonsumsi olehmasyarakat.

2. Arti Penting Uang dalam Pertukaran dan Konsumsi

Melalui keberadaan uang yang diterima secara umum sebagai alat pertukaran barang/jasa, maka aliran barang dan jasa dari produsen ke konsumen semakn lancar. Kelancaran pada sistim pertukaran uang ini meningkatkan standar hidup masyarakat.

3. Arti Penting Uang pada Masyarakat

Masyarakat pada umumnya menggunakan uang untuk membeli barang-barang dab jasa-jasa, dimana ini menjamin kesdiaan masyarakat dalam menukarkan uangnya dengan barang-barang dan jasa-jasa. Sehingga setiap orang puas pada pekerjaannya yang sudah sesuai untuk mendapatkan penghasilan dalam bentuk uang. Pembagian tugas (spesialisasi) merupakan ciri kas dari masyarakat modern yang akan meningkatkan produsksi, pertukaran dan kesejaheraan masyarakat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s